EMULSI PANDANUS OIL

March 4, 2010


  1. A. Tujuan

Mendesain formula emulsi dari pandanus  oil untuk meningkatkan stabilitas zat aktif dan aseptibilitas.

  1. B. Latar Belakang

Pandanus oil berasal dari buah merah (Pandanus conoideus Lam) yang digunakan secara tradisional pada pengobatan berbagai penyakit.  Senyawa yang terkandung dalam pandanus oil antara lain karoten, betakaroten, tokoferol, asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3 dan Omega 9. Konstituen utama dari pandanus oil adalah betakaroten dan tokoferol yang memiliki aktivitas sebagai senyawa anti oksidan , peningkat sistem imun dan penurun LDL.

Dari segi fisikokimiawinya, pandanus oil merupakan senyawa non polar dan mudah terhidrolisis dengan adanya udara. Hasil reaksi hidrolisis pandanus oil berupa zat yang berbau tengik yang kehilangan khasiatnya. Selain itu, permasalahan dari pandanus oil adalah dari segi organoleptisnya , yaitu rasa pahit sehingga kurang dapat diterima oleh konsumen. Oleh karena itu perlu dibuat suatu formulasi yang cocok untuk mempertahankan stabilitas pandanus oil odan meningkatkan aseptibilitas konsumen terhadap rasa dan bau sediaan.

Sediaan emulsi merupakan sediaan yang terdiri dari dua zat cair immiscible , di mana salah satu fase terdisperse di dalam fase lain. Emulsi tipe oil in water diusulkan sebagai  bentuk sediaan yang dapat menangani permasalahan yang dihadapi pada pandanus oil di atas. Pada tipe emulsi oil in water, pandanus oil yang hidrofob akan menjadi droplet minyak yang terjebak dalam air. Adanya surfaktan dalam emulsi akan melindungi pandanus oil dari interaksinya dengan udara, sehingga permasalahan hidrolisis dapat dihindari. Dari segi organoleptik, bentuk emulsi tipe m/a juga tepat karena dapat menutupi rasa yang tidak enak dari pandanus oil.

  1. C. Dasar Teori

Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispersi terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi keseluruh pembawa yang tidak bercampur (Ansel, 1989).

Emulsi Tipe M/A (Minyak/Air) atau O/W (Oil/Water) merupakan suatu jenis emulsi yang fase terdispersinya berupa minyak yang terdistribusi dalam bentuk butiran-butiran kecil didalam fase kontinu yang berupa air. Emulsi tipe ini umumnya mengandung kadar air yang lebih dari 31% sehingga emulsi M/A dapat diencerkan atau bercampur dengan air dan sangat mudah dicuci (Ansel, 1989).

Zat pengemulsi (emulgator) adalah komponen yang ditambahkan untuk mereduksi bergabungnya tetesan dispersi dalam fase kontinyu sampai batas yang tidak nyata. Bahan pengemulsi (surfaktan) menstabilkan dengan cara menempati antar permukaan antar tetesan dalam fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik disekeliling partikel yang akan berkoalesensi, juga mengurangi tegangan antarmuka antar fase, sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama pencampuran. Penggunaan emulgator biasanya diperlukan   5% – 20% dari berat fase minyak (Anief, 2004).

Pemilihan emulgator penting dalam menghasilkan suatu emulsi yang stabil. Emulgator membantu terbentuknya emulsi dengan cara menurunkan tegangan antarmuka, dengan membentuk film (lapisan) antarmuka dan membentuk lapisan ganda listrik sehingga dapat terjadi tolak menolak antara tetesan partikel. Salah satu emulgator adalah emulgator nonionik. Emulgator nonionik dipilih karena dalam Minyak Buah Merah mengandung berbagai macam zat yang tidak diketahui. Karena itu dipilih emulgator nonionik yang bersifat netral. untuk menghindari terjadinya interaksi antara emulgator dan zat didalam Minyak Buah Merah. Selain itu, emulgator nonionik memiliki keseimbangan lipofilik dan hidrofilik dalam molekulnya (Yuliasih, 2008).

Banyak teori telah dikembangkan dalam upaya menjelaskan bagaimana zat pengemulsi bekerja dalam meningkatkan emulsifikasi dan dalam menjaga stabilitas dari emulsi yang dihasilkan. Teori emulsifikasi yang lazim digunakan antara lain :

Teori tegangan permukaan

Menurut teori ini semua cairan mempunyai kecenderungan menerima suatu bentuk yang mempunyai luas permukaan terbuka dalam jumlah yang paling kecil. Untuk suatu tetesan cairan, bentuk itu bulat. Dalam tetesan cairan yang bulat, ada tenaga dalam yang cenderung meningkatkan hubungan dari molekul – molekul zat untuk menahan distorsi dari tetesan menjadi suatu bentuk ang kurang bulat. Jika dua tau lebih tetesan cairan yang sama saling bertemu kecenderungan untuuk berganing membuat satu tetesan yang lebih besar dan mempunyai luas permukaan yang lebih kecil dibandingkan dengan luas permukaan total dari tetesan tetesan itu sendiri sebelum bergabing. Zat- Zat yang dapat meningkatkan penurunan tahanan untuk pecah dapat merangsang suatu cairan untuk menjadi tetesan atau partikel – partikel yang lebih kecil . Zat-zat yang dapat meningkatkan penurunan tahanan untuk pecah dapat merangsang suatu cairan untuk menjadi tetesan atau partikel –partikel yang lebih kecil. Zat-zat yang menurunkan tegangan ini disebut surface active agent (surfactant) (Ansel, 1989)

Oriented Wedge Theory

Teori ini menganggap lapisan monomolecular dari zat pengemulsi melingkari suatu tetesan dari fase dalam emulsi. Teori tersebut beranggapan bahwa zat pengemulsi tertentu mengarahkan dirinya di sekitar dan dalam suatu cairan yang merupakan gambaran kelarutannya pada cairan tertentu. Dalam suatu sistem yang mengandung dua cairan yang saling tidak bercampur, zat pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu fase dan terikat kuat dan terbenam dalam dase tersebut dibandingkan dengan fase lainnya. Karena molekul-molekul mempunyai suatu bagian hidrofilik dan suatu bagian hidrofobik, maka molekul molekul tersebut akan mengarahkan dirinya ke masing masing fase. Umumnya suatu zat pengemulsi yang mempunyai karakteristik hidrofilik lebih besar daripada sifat hidrofobiknya akan memajukan suatu emulsi minyak dalam air dan suatu emulsi air dalam miinyak sebagai hasil penggunaan zat pengemulsi yang lebih hidrofobik daripada hidrofilik (Ansel, 1989).

Teori Plastik

Teori ini menempatkan zat pengemulsi pada antarr muka antara minyak air, mengelilingi tetesan fase dalam sebagai suatu lapisan tipis atau film yang diadsorbsi pada permukaan dari tetesan tersebut. Lapisan tersebut mencegah kontak dan bersatunya fase terdispersi, makin kuat dan makin lunak lapisan tersebut akan makin besar dan makin stabil emulsinya. Pembentukan emulsi tipe a/m atau m/a tergantung pada derajat kelarutan dari zat pengemulsi dalam kedua fase tersebut, zat yang larut dalam air akan merangsang tgerbentuknya emulsi m/a dan zat pengemulsi yang larut dalam minyak sebaliknya (Ansel, 1989).

Teori lapisan listrik rangkap

Jika terdispersi ke dalam air , satu lapis air yang langsung berhubingan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan di depannya. Dengan demukian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan megadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar, karna susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak (Ansel, 1989).

Stabilitas sebuah emulsi adalah sifat emulsi untuk mempertahankan distribusi halus dan teratur dari fase terdispersi yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang (Voigt, 1984).

Umumnya suatu emulsi dianggap tidak stabil secara fisik jika :

  1. Fase dalam atau fase terdispersi pada pendiaman cenderung untuk membentuk agregat dari bulatan-bulatan dengan cepat.
  2. Jika agregat dari bulatan naik ke permukaan atau turun ke dasar emulsi tersebut akan membentuk suatu lapisan pekat dari fase dalam.
  3. Jika semua atau sebagian dari cairan fase dalam tidak teremulsikan dan membentuk suatu lapisan yang berbeda pada permukaan atau pada dasar emulsi yang merupakan hasil dari bergabungnya bulatan-bulatan dari fase dalam (Ansel and Popovich, 1990).

Ketidakstabilan dalam emulsi farmasi dapat digolongkan sebagai berikut :

  1. Flokulasi dan creaming

Creaming merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis cairan dimana masing-masing lapis mengandung fase disper yang berbeda. Nama cream berasal dari peristiwa pemisahan sari susu dari susu. Sari susu tersebut dapat dibuat casein, keju dan sebagainya. Pada creaming flokul fase dispers mudah didispersi kembali dan menjadi campuran homogen bila digojog perlahan-lahan (Anief, 1989).

  1. Coalesen dan pecahnya emulsi (cracking)

Proses cracking (pecahnya emulsi) yang bersifat tidak dapat kembali. Pada cracking, penggojogan sederhana akan gagal untuk mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang stabil (Anief, 1989).

  1. Inversi

Adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi M/A ke tipe A/M atau sebaliknya (Anief, 1989).

Berbagai faktor yang terlibat dalam laju kecepatan pembentukkan cream dapat dilihat dalam persamaan STOKES di bawah ini :

Keterangan :

V    = kecepatan pengapungan atau sedimentasi

d    = diameter tetesan

= kerapatan fase tetesan

= kerapatan fase eksternal

= viskositas

g    = kecepatan gravitasi

Dari hukum STOKES dapat diketahui bahwa :

  1. Kecepatan pembentukan cream berbanding lurus dengan selisih kerapatan antara fase minyak dan fase air. Peristiwa pembentukan cream dapat diminimalkan dengan memilih kerapatan dari kedua fase yang hampir sama. Kebanyakan minyak mempunyai kerapatan di bawah 1,00.
  2. Kecepatan pembentukan cream berbanding lurus dengan jari-jari butiran. Butir-butir tetesan kecil lebih lambat naik jika dibandingkan dengan butir-butir tetesan besar, sehingga pembentukan cream dapat diminimalkan dengan memperkecil butiran-butiran fase terdispersi.
  3. Kecepatan pembentukan cream berbanding terbalik dengan viskositas sehingga dapat menyebabkan creaming. Untuk menanggulangi hal ini, emulsi harus disimpan di tempat sejuk. Creaming dapat diminimalkan dengan menaikkan viskositas medium (Gunn and Carter, 1975).

Minyak Buah Merah mengandung betakaroten dan tokoferol yang tinggi bermanfaat sebagai antioksidan. Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya flek pada aliran darah ke jantung dan ke otak menjadi lancar tanpa hambatan. Interaksinya dengan protein dapat meningkatkan produksi antibodi. Tokoferol berperan dalam memperbaiki sistem kekebalan tubuh dan memperbaiki mobiditas dan mortalitas sel jaringan, kolesterol dalam darah pun dinetralisir. Sebagai zat aktif, Minyak Buah Merah mempunyai dosis 5 ml hingga 10 ml per pemberian (Budi, 2005).

Span 80 adalah campuran ester sorbital dengan satu mol anhidrida asam oleat. Pemerian : cairan kental seperti minyak dengan bau yang khas, berwarna kuning muda sampai kuning kecoklatan (Reynolds dan James, 1996).

Tween 80 (Polysorbatum 80) adalah ester oleat dari sorbitol dan anhidrida yang berkopolimerisasi dengan lebih kurang 20 molekul etilena oksida untuk tiap molekul sorbitol dan anhidrida sorbitol. Pemerian : cairan seperti minyak, jernih, berwarna kuning muda hingga coklat tua, bau khas lemah, rasa pahit dan hangat (Anonim, 1995).

Teori tegangan permukaan

Menurut teori ini semua cairan mempunyai kecenderungan menerima suattu bentuk yang mempunyai luas permukaan terbuka dalam jumlah yang paling kecil. Untuk suatu tetesan cairan, bentuk itu bulat. Dalam tetesan cairan yang bulat, ada tenaga dalam yang cenderung meningkatkan hubungan dari molekul – molekul zat untuk menahan distorsi dari tetesan menjadi suatu bentuk ang kurang bulat. Jika dua tau lebih tetesan cairan yang sama saling bertemu kecenderungan untuuk berganing membuat satu tetesan yang lebih besar dan mempunyai luas permukaan yang lebih kecil dibandingkan dengan luas permukaan total dari tetesan tetesan itu sendiri sebelum bergabing. Zat- Zat yang dapat meningkatkan penurunan tahanan untuk pecah dapat merangsang suatu cairan untuk menjadi tetesan atau partikel – partikel yang lebih kecil . Zat-zat yang dapat meningkatkan penurunan tahanan untuk pecah dapat merangsang suatu cairan untuk menjadi tetesan atau partikel –partikel yang lebih kecil. Zat-zat yang menurunkan tegangan ini disebut surface active agent (surfactant) (Ansel, 1989)

Oriented Wedge Theory

Teori ini menganggap lapisan monomolecular dari zat pengemulsi melingkari suatu tetesan dari fase dalam emulsi. Teori tersebut beranggapan bahwa zat pengemulsi tertentu mengarahkan dirinya di sekitar dan dalam suatu cairan yang merupakan gambaran kelarutannya pada cairan tertentu. Dalam suatu sistem yang mengandung dua cairan yang saling tidak bercampur, zat pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu fase dan terikat kuat dan terbenam dalam dase tersebut dibandingkan dengan fase lainnya. Karena molekul-molekul mempunyai suatu bagian hidrofilik dan suatu bagian hidrofobik, maka molekul molekul tersebut akan mengarahkan dirinya ke masing masing fase. Umumnya suatu zat pengemulsi yang mempunyai karakteristik hidrofilik lebih besar daripada sifat hidrofobiknya akan memajukan suatu emulsi minyak dalam air dan suatu emulsi air dalam miinyak sebagai hasil penggunaan zat pengemulsi yang lebih hidrofobik daripada hidrofilik (Ansel, 1989).

Teori Plastik

Teori ini menempatkan zat pengemulsi pada antarr muka antara minyak air, mengelilingi tetesan fase dalam sebagai suatu lapisan tipis atau film yang diadsorbsi pada permukaan dari tetesan tersebut. Lapisan tersebut mencegah kontak dan bersatunya fase terdispersi, makin kuat dan makin lunak lapisan tersebut akan makin besar dan makin stabil emulsinya. Pembentukan emulsi tipe a/m atau m/a tergantung pada derajat kelarutan dari zat pengemulsi dalam kedua fase tersebut, zat yang larut dalam air akan merangsang tgerbentuknya emulsi m/a dan zat pengemulsi yang larut dalam minyak sebaliknya (Ansel, 1989).

Teori lapisan listrik rangkap

Jika terdispersi ke dalam air , satu lapis air yang langsung berhubingan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan di depannya. Dengan demukian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan megadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar, karna susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak (Ansel, 1989)

  1. D. USULAN FORMULA

Minyak buah merah          150 g

Gom Arab                         35 g

Span 80                             5 g

Tween 80                          15 g

Metil paraben                    0,375 g

Pengaroma strawberry     5 g

Aquadest di add                500 g

Perhitungan HLB campuran

nilai HLB span 80 = 4,3
nilai HLB Tween 80 = 15

Bobot total surfaktan = 20 gram

Span 80 = 5/20X100% = 25%

Tween 80 = 15/20X100% = 75%

Rumus

RHLB span 80 = 25/100X4,3 = 1,75

RHLB tween 80 = 75/100X15 = 11,25   +

RHLB total = 13

  1. Rasionalitas

Minyak buah merah (Pandanus oil) merupakan senyawa non polar yang hendak dibuat dalam sediaan emulsi minyak dalam air (M/A). Pandanus oil memiliki berbagai kandungan zat aktif dengan sifat berbeda-beda, oleh karena itu digunakan surfaktan yang bersifat non-ionic yaitu tween 80 dan Span 80 untuk menghindari adanya interaksi muatan di dalam zat aktif dengan muatan dari surfaktan yang dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas emulsi.

Penggunaan surfaktan tween 80 dan span 80 dengan perbandingan 3:1 dinilai sudah tepat karena akan menghasilkan emulsi dengan nilai HLB campuran sebesar 13. Nilai HLB tersebut akan menghasilkan tipe emulsi M/A. Selain itu dari sisi jumlah fase minyak yang digunakan lebih kecil dari pada jumlah fase air sehingga memungkinkan untuk dibuat sebagai emulsi M/A.

Rasionalitas dari sisi pembuatan, dengan dituangkannya fase minyak ke dalam fase air, berarti fase minyak dijadikan droplet-droplet dalam air. Air menjadi fase kontinu.

Pandanus oil sebagai zat aktif dalam sediaan emulsi bertipe M/A ini diharapkan akan lebih stabil karena Pandanus oil terjebak dalam fase air sehingga terhindar dari hidrolisis dengan udara. Selain itu tipe ini dapat menutupi rasa dari pandanus oil karena droplet minyak terjebak dalam fase air sehingga tidak langsung. Penggunaan essens strawberry dimaksudkan untuk menutupi aroma pandanus oil.

  1. Mekanisme Stabilisasi

Stabilitas emulsi yang terbentuk dalam emulsi ini berasal dari energi barrier yang diberikan oleh surfaktan non-ionik dengan dasar Hidrofilik – Lipofilik balance. Surfaktan, Tween 80 dan Span 80 memiliki penyusun rantai yang bersifat hidrofil pada bagian kepala dan lipofil pada bagian ekor.

Bagian hidrokarbon dari Tween 80 dan Span 80 memiliki kecenderungan untuk terikat di dalam minyak, namun adanya kepala sorbitan yang polar dari molekul Span mencegah penggabungan droplet-dropet minyak. Penggunaan Tween 80 akan semakin meningkatkan stabilisasi antar droplet, karena bagian polioksietilen yang bersifat polar akan berada dalam fase air. Jadi bagian polar dari surfaktan akan memberi halangan pada droplet untuk bersatu kembali (Martin, 1993).

Dari sisi interaksi individual droplet, adanya surfaktan akan membentuk lapisan film monomolecular. Lapisan film yang terbentuk akan menurunkan tegangan permukaan sehingga emulsi dapat stabil.

Selain itu, untuk meningkatkan stabilitas dari emulsi digunakan Gom Arab untuk meningkatkan viskositas. Dengan ditingkatkannya viskositas, maka gerakan droplet-droplet dikurangi, sehingga pertemuan antar droplet dapat diminimalkan. Sesuai hukum Stokes, di mana kecepatan pengendapan berbanding terbalik dengan viskositas. Makin tinggi viskositas, kecepatan pengendapan turun.

  1. Cara Pembuatan

a.  Bahan ditimbang dan alat disiapkan.

b.  Dibuat fase air. Aquadest dipanaskan pada suhu 70°C ditambahkan metil paraben diaduk hingga homogen, ditambahkan gom arab dan tween 80 diaduk hingga homogen.

  1. Dibuat fase minyak. Minyak Buah Merah dipanaskan pada suhu 70°C ditambahkan span 80

d.  Fase minyak dicampurkan kedalam fase air sambil diaduk dengan pengaduk elektrik. Pengadukan dilakukan selama 2 menit dengan waktu antara 20 detik dan diaduk kembali selama 2 menit.

e.  Ditambahkan pengaroma strawberry, diaduk sampai homogen.

  1. Cara Pengujian Stabilitas Emulsi
    1. Pengujian Tipe Emulsi

Penentuan tipe emulsi ditetapkan dengan menambah reagen methylen blue secara mikroskopik. Formula emulsi dipreparasi di objek glass, kemudian tipe emulsi diamati di bawah mikroskop. Methilen blue akan terlarut dalam fase air. Jika medium dispers berwarna biru merata, maka emulsi bertipe M/A.

  1. Pengujian Pemisahan fase

Emulsi dimasukkan ke dalam tabung reaksi berskala. Pada awal setelah pembuatan dan setiap interval 7 hari selama 4 minggu diamati pemisahan fase yang terjadi. Hasil pemisahan fase dinyatakan dengan persentasi emulsi stabil dengan rumus :

% emulsi stabil = hu/ho x 100%

Keterangan :

Hu : tinggi emulsi stabil

Ho : tinggi emulsi mula-mula

  1. Pengujian Ukuran Droplet (Mikromeritik)

Mikroskop dipersiapkan dan lensanya dikalibrasi. Tiap formula emulsi dipreparasi di objek glass. Partikel dikelompokkan, ukuran partikel yang terkecil dan terbesar ditentukan. Kemudian partikel diukur dan digolongkan ke dalam kelompok yang telah ditentukan dari hasil pengukuran 500 partikel. Pengujian dilakukan setiap minggu selama 4 minggu diamati perubahan ukuran droplet yang terjadi. Dilihat dari kurva frekuensi distribusi.

  1. Perubahan Viskositas

Pengukuran viskositas dilakukan dengan viscometer Cup and Bob tipe Stormer. Pengukuran viskositas dilakukan pada saat 24 jam setelah pembuatan dan setiap interval 7 hari selama 4 minggu.

Bobot bahan pemutar silinder ditentukan, bobot yang digunakan adalah 200 gram. Jumlah putaran per menit untuk beban tertentu ditentukan. Putaran yang digunakan adalah 25 rpm. Kemudian dari data yang didapat viskositas emulsi dihitung dengan rumus :

h =kv  x  (w/v)

Keterangan :

h = viskositas (cP)

Kv = harga tetapan alat

w = berat cairan (gram)

v =  kecepatan putar alat (rpm)

  1. Uji Stabilitas yang Dipercepat

Emulsi dimasukkan untuk tiap-tiap formula ke dalam 6 tabung sentrifuge sampai volum tertentu. Kemudian tabung sentrifuge ditutup dimassukkan ke dalam sentrifuge dan disentrifugasi dengan kecepatan 4000 rpm selama 20 menit. Pada awal pembuatan diamati pemisahan yang terjadi dan hasilnya dinyatakan dengan persentasi emulsi stabil dengan rumus

% emulsi stabil = (hu/ho) x 100%

Keterangan :

hu = tinggi emulsi stabil

ho = tinggi emulsi mula-mula

  1. E. KESIMPULAN
  2. Emulsi yang dihasilkan berupa emulsi minyak dalam air
  3. Emulsi yang dihasilkan akan distabilisasi oleh Hidrofilik Lipofilik Balance dengan menggunakan emulgator Tween 80 dan Span 80.
  4. Dengan pertimbangan sifat fisikokimia dari bahan yang digunakan baik zat aktif dan surfaktan, maupun zat tambahan lainnya, formula emulsi yang diusulkan sudah rasional untuk dibuat.

EKSTRAKSI LEMAK KASAR MENGGUNAKAN SOXHLET EXTRACTOR

March 4, 2010


PRINSIP SOXHLET

Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik.

Soklet terdiri dari:

  1. pengaduk / granul anti-bumping
  2. still pot (wadah penyuling)
  3. Bypass sidearm
  4. thimble selulosa
  5. extraction liquid
  6. Syphon arm inlet
  7. Syphon arm outlet
  8. Expansion adapter
  9. Condenser (pendingin)

10.  Cooling water in

11.  Cooling water out

Bahan yang akan diekstraksi ialah jagung, dedak, tepung ikan, pelet. Penentuan kadar lemak dengan pelarut organik, selain lemak juga terikut Fosfolipida, Sterol, Asam lemak bebas, Karotenoid, dan Pigmen yang lain . Karena itu hasil ekstraksinya disebut Lemak kasar .

MEKANISME KERJA

Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5-10 gram dan kemudian dibungkus atau ditempatkan dalam “Thimble” (selongsong tempat sampel) , di atas sample ditutup dengan kapas.

Pelarut yang digunakan adalah Petroleum Spiritus dengan titik didih 60 – 80°C. Selanjutnya labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan Petroleum Spirit 60 – 80°C sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus karena kelarutan lemak pada pelarut organik.

Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam soxhlet . Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor . Alat pendingin disambungkan dengan soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak

mulai dipanaskan .

Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati soklet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondenser mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju  labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam.

Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan.

DASAR PEMILIHAN METODE, KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN METODE SOXHLET

Metode soxhlet ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat.

Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan  untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, http://commons.wikimedia.org/wiki/Image:Soxhlet_Extractor.jpg diakses tanggal 20 Agustus 2008

Anonim, 2008, http://whale.wheelock.edu/bwcontaminants/analysis.html diakses tanggal 20 Agustus 2008

Darmasih, 1997, peternakan.litbang.deptan.go.id/user/ptek97-24.pdf, diakses tanggal 20 Agustus 2008

Hello world!

March 4, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.